Rencananya almarhum akan dikebumikan di kota kelahiran istrinya subuh-subuh keesokan harinya. Pasrah.. tapi bingung, kalau pergi subuh, lalu kapan aku bisa takziahnya. Sementara hari itu aku pulang larut malam. Sepulangnya, aku menelpon sahabatku yang lain untuk memastikan. Eh dia malah ngajakin aku ikut ke pemakaman. Nah loh. Setelah dapat ijin dari orangtua, akhirnya aku memutuskan untuk ikut. Kebetulan sekali sekampung dengan DIA. Tapi sebenarnya gak ngarep bisa ketemu sih. Karena posisinya saat itu dimana aku juga gak tau. Biasanya kalau weekend dia suka ke bandung. Ketemu syukur, gak juga ya sudahlah (pikirku).
Dengan berbekal mata ngantuk karena hanya tidur hanya sekitar 2 jam, aku bangun dan bergegas ke rmh duka. Suasana sudah mulai ramai menghantar kepergian almarhum. Aku dan temanku menumpang avanza hitam milik kawan almarhum. Kami berangkat sekitar jam setengah 6 pagi. Dan sampai sekitar jam 11 siang.
Seingatku, istri almarhum pernah bercerita kalau posisi rumahnya gak jauh dari rumah DIA. Jadi aku kirim beberapa sms yang mengabarkan aku sedang dalam posisi menuju kesana. Namun untuk alamat pastinya aku belum tau. Ternyata dia (kebetulan) ada di rumah. Dan antusias sekali akan kedatanganku.
Dia berharap sekali aku bisa mampir ke rumahnya. Dan benar, saat aku sudah sampai, dia menjemputku di depan gang, dan mengajakku ke rumahnya untuk bertemu keluarganya. Pertemuan yang tidak aku duga, ibu, kakak dan ayahnya, semua sempat aku temui. Bahkan Ibunya memintaku untuk mengunjungi Uwaknya juga (kebetulan waktu aku kesana thn kemarin, aku sempat mampir dan numpang sholat disana) yang saat itu sedang terbaring sakit. Semua berlangsung tidak sampai setengah jam dan sudah termasuk sholat dzuhur. Singkat, padat, tapi sarat makna. Entah kenapa, kesan saat itu kepada ibunya tiba-tiba berubah(lebih positif tentunya).
Setelah itu, aku kembali ke rumah duka, dan mengantar jenazah ke persinggahan terakhir. Rencananya kami akan langsung bertolak pulang ke depok setelah pemakaman. Karena esok kami harus kembali berkutat dengan aktifitas di kantor. Namun keluarga duka ingin kami singgah sebentar. Dan dia pun datang kembali menjemput aku, berharap aku mengunjungi rumahnya yang lain, yang dulu pernah diceritakan akan menjadi istananya setelah menikah. Akhirnya kesampaian juga niat dia dan aku untuk mengunjungi rumah itu. Dan lagi, di tempat dan waktu yang tidak pernah direncanakan. Singkat, hanya beberapa menit melihat-lihat, lalu aku kembali lagi untuk siap-siap pulang. Karena sudah di telpon juga. Haahahhaa.....
Setelah kejadian ini, aku merenung.
Jujur.. Hubungan kami beberapa bulan ini tidaklah semulus dan seindah seperti di awal. Malah terkadang aku merasa, bahwa hubungan ini tidak akan berhasil. Komunikasi buruk, pengertian menipis, dan keyakinan satu sama lain nyaris hilang. Terutama di diriku. Ke egoisan kami masing-masing semakin menjauhkan kami. Namun aku sadar, bahwa semua tidak bisa dipaksakan.
Aku pasrah. Tidak berharap dan tidak mau berharap lagi. Aku hanya membiarkan semua berjalan seperti apa adanya. Tidak ada yang perlu dipaksakan, ketika semua tidak berjalan sesuai dengan keinginan, maka hanya akan menyakitiku saja. Jadi.. Aku biarkan keinginan-Nya yang membimbingku. Akupun tidak mau memaksakan keadaanku untuk bisa dekat dengan dia. Tidak sms,telp maupun dtg menemuinya. Aku benar-benar pasrah... Bahkan ketika ternyata bila dia bukan jodohku, aku belajar untuk pasrah.
Beberapa minggu sebelumnya, dia berada di jakarta, dan berharap aku bisa datang menemuinya. Saat itu kondisi sangat tidak memungkinkan. Sebenarnya tidak ada yang tidak mungkin, namun kata hatiku berkata, aku tidak bisa. Aku berkata padanya, mungkin belum suratan untuk kami bertemu. Meskipun perasaan rindu itu membuncah, tapi belum takdir kita untuk bersua. Lagi-lagi aku pasrah.
Allah Maha Adil, disela-sela kepedihan, ternyata tersimpan sebuah rencana kecil untu kami. Dan kami berduapun tak habis pikir, mungkin kalau bukan karena izin-Nya, entah kapan kami bisa bertemu kembali. Entah kapan aku bisa menyenangkan hatinya dengan menengok rumah kecilnya, yang entah apakah aku bisa berada disana melengkapi kebahagaiaannya kelak atau tidak.
Perjalanan nan singkat itu, berakhir sudah. Sekian menit persinggahan, mungkin bisa menjadi babak baru dalam hubungan kami yang telah membeku. Entaah.. Apakah keyakinan nya semakin menguat, ataukah tidak.. Aku tidak mau banyak berharap. Biarlah Allah SWT yang mengaturnya. Kalaulah kami berjodoh, maka Allah akan mempertemukan kami kembali dengan cara-Nya yang indah. Jauh lebih indah dari pertemuan ini, atau pertemuan-pertemuan yang lalu.
Allahu Rabbi.. Aku bersujud kepada-Mu
Semoga semua yang terjadi, dapat dengan baik aku memetik semua hikmahnya






turut berduka cita atas meninggalnya ayah dari temannya mbak..
BalasHapustrims yudi atas perhatiannya
BalasHapus